Rabu, 02 Februari 2011

VISIT TO RIYADH

Hari libur...enaknya emang jalan-jalan..... salah satu perjalanan yang tak terlupakan adalah perjalanan ke Kota Riyadh, ibukota Saudi Arabia. Kami dari SIJ (Sekolah Indonesia Jeddah) berangkat dari Kota Jeddah ...wuih ternyata naik bis lama sekali perjalanannya kurang lebih 10 jam. Tiba di kota Riyadh kami disambut teman-teman dari SIR (Sekolah Indonesia Riyadh).....
Di depan SIR, Riyadh
Besoknya kami diajak teman-teman dari SIR untuk melhat-lihat salah satu peninggalan sejarah Saudi yaitu benteng KIng Abdul Aziz ..... betapa luasnya benteng dan istana KIng Abdul Aziz zaman baheula itu......
Di salah satu sudut benteng KIng Abdul Aziz

Kemudian kami pun selama tiga hari mengikuti pelatihan di KBRI Riyadh...... setelah 3 hari kami pun akan siap siap pulang kembali ke Jeddah.....
Di depan KBRI Riyadh

Sebelum kami kembali ke Jeddah.... kami diajak jalan-jalan dulu ke pusat kota... disana terdapat gedung tertinggi di Riyadh terdiri dari seratus lantai, lantai dasar merupakan sebuah mall..... diatasnya perkantoran.... Kami puin kemudian naik ke lantai seratus...wow.... pemandangan Kota Riyadh terlihat indah, mobil-mobil terlihat kecil seperti mobil-mobilan.....
Sebuag gedung tertinggi di Kota Riyadh terdiri dari 100 lantai
Kami pun kemudian kembali ke Jeddah........

Jumat, 14 Januari 2011

EXPEDISI GUA TSUR

Setelah menapak tilas gua hiro di jabal Nur, maka tak kalah menariknya adalah perjalanan menuju Jabal Tsur. Jabal Tsur ini terletak kurang lebih 5 km dari pusat kota Mekkah. Keadaan Gunung (Jabal) Tsur lebih tinggi dari pada Jabal Nur.....
Bersiap hiking to Jabal Tsur....

Perjalanan naik ke Jabal tsur tidak selicin dan sesulit jabal Nur karena beberapa jalannya malah ada yang sudah dibuat tangga, akan tetapi perjalanan lebih lama karena Jabal Tsur lebih tinggi di sepanjang jalan banyak batu-batu besar bertebaran....
Salah satu batu besar di sepanjang jalan naik menuju puncak Jabal Tsur
Akhirnya...sampai juga di puncak Jabal Tsur....Gua tempat Rasulullah SAW sembunyi dari kejaran Kaum Quraisy ketika hijrah ternyata sangat sempit. Lubang gua sangat sempit dan keadaan didalamnya hanya muat 2 atau 3 orang saja dan kita tidak dapat berdiri di dalamnya....
Gua Tsur
Akan tetapi ketika kedua kalinya saya kesana batu gua tsur sudah dibuat jalan dari arah belakang......sehingga kita dapat masuk ke dalamnya dari arah belakang....
Beberapa saat kemudian kami pun turun kembali........
Papan pengumuman di kaki Jabal Tsur...

Wuih cape deh....tapi asyik deh...

Rabu, 12 Januari 2011

EXPEDISI GUA HIRO

Perjuangan Rasulullah SAW dalam menyampaikan Islam di mulai dari Gua Hiro ini, sebagai tempat pertama turunnya wahyu........Saya jadi teringat 8 tahun lalu, yaitu sekitar tahun 2002, saya dan teman-teman dari Sekolah Indonesia Jeddah dan OSIS SIJ mencoba menapak tilas ke Jabal Nur tempat keberadaannya Gua Hiro....
Jabal Nur
 Setelah menapaki lereng gunung (jabal) yang berbatu dan rawan longsor akhirnya sampai juga ke puncak Jabal Nur ..............
Tampak gua hiro dari puncak jabal nur
Ternyata menuju ke situs Gua Hiro harus melalui celah-celah sempit yang lumayan cukup sulit juga untuk mencapainya, akhirnya setelah berjuang beberapa lama, sampai juga ke gua hiro....
Gua Hiro Tempat Rasul SAW menerima wahyu pertama.....

Pemandangan Kota Mekkah dari Gua Hiro

Selasa, 14 Desember 2010

Pentingnya Menjaga Ucapan Yang Baik

Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang lagi Maha Bijaksana yang tidak pernah membiarkan hamba-Nya hidup tanpa panduan dan petunjuk. Sebagai manusia yang senantiasa sadar akan tujuan penciptaannya di muka bumi ini, haruslah mengingat bahwa setiap apa yang dikatakan atau di ucapkan itu tidak terlepas dari catatan malaikat yang memerhatikan setiap gerak-gerik dan tingkah-lakunya.
Oleh karena itu, pastilah sekecil apapun perbuatan manusia itu kelak akan diperhitungkan, dinilai serta diperlihatkan dan dibalas dengan seadil-adilnya.Dalam Al-Quran Allah berfirman : “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS. Al-Zalzalah : 7-8)
Memang terkadang tutur kata yang baik itu begitu sukar untuk dikendalikan oleh diri. Apalagi ketika sedang emosi, tersinggung atau marah akan terasa sulit sekali di bendung yang semuanya itu berdasar atas dorongan dari nafsu. Tetapi Ingatlah, bahwa Lidah yang berperanan penting dalam menuturkan kata-kata tidak akan terlepas dari penilaian dan timbangan keadilan Allah kelak. Maka Jauhilah dari terus menuturkan kata-kata tidak berfaedah dan menyakiti hati serta perasaan orang lain.Allah berfirman: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di sampingnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf, : 18)
Hal ini bertujuan memberi peringatan kepada kita bahwa setiap perkatan dan perbuatan ada nilainya di sisi Allah dan akan diberi balasan yang setimpal. Oleh karena itu, basahilah selalu lidah kita untuk berdzikir kepada-Nya baik ketika senang dan susah, sedih maupun duka agar hati menjadi tenang dan tentram.Firman Allah SWT bahwa: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang tenteram.” (QS. Ar-Ra’d, : 28) 
Hakikatnya, penuturan kata-kata baik atau ucapan dapat memberi kesan mendalam dalam diri seseorang. Selain itu, dalam Al-Quran dengan jelas Allah menyatakan bahwa antara ciri hamba-Nya adalah mereka yang baik ucapannya. Mereka yang apabila dihina atau dicaci oleh orang yang jahil (tidak berilmu), mereka tidak membalasnya kecuali dengan kata-kata baik dan lemah lembut.
Firman Allah SWT:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang- orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan : 63)
Justeru, hal yang disayangkan jika melihat seseorang berilmu dan berpendidikan tinggi bersikap terlalu emosional, tidak dengan bijak dalam menangani suatu masalah dan lebih buruk lagi merasakan dirinya sajalah yang betul dan baik jika dibandingkan dengan yang lain.
Sebaliknya, bagi mereka yang dikurniakan Allah sedikit dari ilmu-Nya, merasa rendah diri dan mengucapkan kata-kata yang baik tatkala berhadapan dengan orang yang tidak mengetahui atau kurang faham ilmunya. Rasullullah sendiri pernah dilempari batu sampai giginya patah sehingga malaikat jibril menawarkan untuk melemparkan gunung Uhud kepada mereka yang mendzolimi. Tetapi dengan rendah hati dan sabar beliau menolak berbuat seperti itu, semuanya itu dilakukan karena mereka belum tahu. Seandainya mereka tahu niscaya mereka tidak akan berbuat demikian.
Betapa agungnya akhlak dan kesabaran yang ditunjukan oleh Rasullullah, bukan pembalasan tetapi sikap memaafkan bahkan mendoakan mereka dengan ucapan yang baik. Perlu diketehui pula bahwa kata yang baik dan lemah lembut, bukan sekedar susunan perkataan yang indah dan memikat hati, lebih penting lagi adalah suatu perkataan yang benar.
Firman Allah yang bermaksud: “Wahai orang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab, ayat 70)
>Marilah bersama mengubah sikap menjadi orang yang sentiasa menjaga diri terhadap setiap ucapan yang kurang berfaedah dalam keseharian kita. Menjadi hamba yang selalu pandai bersyukur atas segala nikmat yang diperoleh dan sentiasa membahagiakan orang lain dengan pengucapan kata-kata yang baik, dan lemah lembut. InsyaAllah dengan ucapan yang baik akan sampai ke hati tidak hanya ditelinga. Semoga dengan izin Allah kehidupan kita akan bertambah baik dan dihiasi dengan akhlakul karimah.

Selasa, 07 Desember 2010

CINTA, ALLAH DAN CINTA RASUL

ZUHUD, CINTA ALLAH, CINTA RASUL

Allah Swt berfirman, "katakanlah, jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscya Allah mengasihi kalian" (QS Ali `Imran [3]:31).

Ketahuilah, wahai yang dikasihi Allah, bahwa kecintaan hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Adapun kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah limpahan ampunan-Nya kepadanya.

Ada yang mengatakan, apabila hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allah dan setiap yang tampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan kerena Allah, cintanya hanya milik dan kepada Allah. hal itu menuntut keinginan menaati-Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, mahabbah ditafsirkan sebagai keinginan untuk taat dan kelaziman mengikuti Rasulullah Saw dalam peribadatannya. Hal itu merupakan dorongan menuju ketaatan kepada-Nya. 


Al-Hasan Ra berkata, "beberapa kaum bersumpah setia dihadapan Rasulullah Saw, 'Wahai Rasulullah, sungguh kami mencintai Tuhan kami.' Maka turunlah ayat diatas."

Basyar al-Hafi berkata, "aku bermimipi bertemu dengan Nabi Saw. Beliau bertanya'Wahai Basyar, tahukah engkau, dengan apa Allah meninggikan kamu di antara kawan-kawamu?'
"Tidak, wahai Rasulullah," jawabku. Beliau bersabda, Dengan baktimu kepada orang-orang saleh, nasehatmu kepada saudara-saudaramu, kecintaanmu kepada sahabat-sahabatmu dan pengikut Sunnahku, dan kepatuhanmu kepada Sunnahku." Selanjutnya Nabi Saw bersabda, "barang siapa menghidupkan Sunnahku, dia telah mencintaiku. Dan, barang siapa mencintaiku, pada hari kiamat dia bersamaku di surga."

Di dalam hadis mahsyur disebutkan bahwa orang yang berpegang pada Sunnah Rasulullah Saw ketika orang lain berbuat kerusakan dan terjadi pertikaian diantara para penganut mazhab, dia memperoleh pahala dengan seratus pahala syuhada. demikian disebutkan dalam Syir`ah al-islam.

Nabi Saw berkata, "Semua umat ku masuk surga kecuali orang yang tidak menginginkannya". Para sahabat bertanya "Siapa yang tidak menginginkannya"? Beliau menjawab, "Orang yang menaati ku masuk surga, sedangkan orang yang durhaka pada ku tidak menginginkan masuk surga. Setiap amalan yang tidak berdasarkan Sunnah ku adalah maksiat."

Seorang ulama sufi berkata, "Kalau anda melihat seorang guru sufi terbang diudara, berjalan diatas laut atau memakang api, dan sebagainya, sementara dia meninggalkan perbuatan fardhu dan sunnah secara sengaja, ketahuilah bahwa dia berdusta dalam pengakuannya. Perbuatannya bukanlah karamah. Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian."

Al-Junayd Ra berkata, "Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali melalui Allah. Jalan untuk sampai kepada Allah adalah mengikuti al Mushthafa (Nabi Muhammad Saw)".

Ahmad al-Hawari Ra berkata, "Setiap perbuatan tanpa mengikuti sunnah adalah batil. Sebagaimana sabda nabi saw, Barang siapa yang mengabaikan sunnah ku, haram baginya syafa`atku." (Tercantum dalam Syir`ah al-Islam).

Ada seorang gila yang tidak meremehakan dirinya. Kemudian, hal itu diberitahukan kepada Ma`ruf al-Karkhi. Dia tersenyum, lalu berkata, "Wahai saudara ku, Allah memiliki para pencinta dari anak-anak, orang dewasa, orang berakal, dan orang gila . Yang ini adalah yang engkau lihat pada orang gila."

Al-Junayd berkata, “Guruku al-Sari Ra jatuh sakit. Kami tidak tahu obat untuk menyembuhkan penyakitnya dan juga tidak tahu sebab sakitnya. Dokter yang berpengalaman memberikan resep kepada kami. Oleh karena itu, kami menampung air seninya kedalam sebuah botol. Lalu, dokter itu melihat dan mengamatinya dengan seksama. Kemudian dia berkata, ‘Aku melihat air seni iniseperti air seni seorang pencinta (al-`asyiq).’ Aku seperti disambar petir dan jatuh pingsan. Botol itu pun jatuh dari tangan ku. Kemudian, aku kembali kepada al-Sari dan mengabarkan hal itu kepadanya. Dia tersenyum dan berkata, ‘Allah mematikan apa yang dia lihat.’ Aku bertanya, ‘Wahai guru, apakah mahabbah itu tampak jelas dalam air seni?’ Dia menjawab, ‘Benar’.”

Al-Fudhayl Ra berkata, “Apabila ditanyakan kepadamu, apakah engkau mencintai Allah? Diamlah. Sebab, jika engkau menjawab ‘tidak’, engkau menjadi kafir. Sebaliknya, jika engkau menjawab ‘ya’, berarti sifat mu bukan sifat para pencinta Allah. Maka waspadalah dalam mencintai dan membenci (sesuatu).”

Sufyan berkata, “Barang siapa mencintai orang yang mencintai Allah Swt, berarti dia mencintai Allah. Barang siapa memuliakan orang yang memuliakan Allah Swt, berarti dia memuliakan Allah Swt.

Sahl berkata, “Tanda cinta kepada Allah adalah cinta kepada al-Quran. Tanda cinta kepada allah dan al-Quran adalah cinta kepada Nabi Saw. Tanda cinta kepada Nabi Saw adalah cinta kepada sunnahnya. Tanda cinta kepada sunnahnya adalah cinta kepada akhirat. Tanda cinta kepada akhirat adalah benci dunia. Tanda benci dunia adalah tidak mengambilnya kecuali sebagai bekal dan perantara menuju akhirat.”

Abu al-Hasan al-Zanjani berkata, “pokok ibadah itu adalah tiga anggota badan, yaitu telinga, hati, dan lidah. Telinga untuk mengambil pelajaran, hati untuk bertafakkur, sedangkan lidah untuk berkata benar, bertasbih dan berdzikir. Sebagaimana Allah Swt berfirman, Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbilah kepadanya-Nya diwaktu pagi dan petang (QS al-Ahzab [33]: 41-42).”

Abdullah dan Ahmad bin Harb bverada disuatu tempat. Lalu, Ahmad bin Harb memotong sehelai daun rumput. Kemudian ‘Abdullah berkata kepadanya, “engkau mengambil lima hal yang melalaikan kalbumu dari bertasbih kepada Maulamu. Engkau terbiasa sibuk dengan selain dzikir kepada Allah Swt. Engkau jadikan hal itu sebagai jalan yang diikuti orang lain, dan engkau mencagahnya dari bertasbih kepada Tuhannya. Engkau bebankan kepada diri mu hujjah (argumen) Allah Swt pada hari kiamat.” Demikian dikutif dari Raunaq al-Majalis.

Al-Sari Ra berkata, “aku bersama al-Jurjani melihat tepung. Lalu, al-Jurjani menelannya. Aku tanyakan hal itu kepadanya, ‘mengapa engkau tidak memakan makanan yang lain?’ Dia menjawab, ‘Aku hitung diantara mengunyah dan menelan itu ada tujuh puluh kali tasbih. Karena itu, aku tidak pernah lagi memakan roti sejak empat puluh tahun yang lalu.”

Sahl bin ‘Abdullah makan setiap lima belas hari sekali. Ketika memasuki bulan Ramadhon, dia tidak makan kecuali sekali saja. Sekali-sekali dia menahan lapar hingga tujuh puluh hari. Apabila makan, badannya menjadi lemah. Namun jika lapar, badannya menjadi kuat. Dia beriktikaf di Masjid al-Haram selama tiga puluh tahun tanpa terlihat makan dan minum. Dia tidak melewatkan sesaatpun dari berdzikir kepada Allah.

‘Umar bin ‘Ubayd tidak pernah keluar dari rumahnya kecuali karena tiga hal, yaitu shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, dan melayat orang yang meninggal. Dia berkata, ‘aku melihat orang-orang mencuri dan merampok. Umur adalah mutiara indah yang tidak ternilai, maka hendaklah umur itu disimpan dalam lemari yang abadi diakhirat. Ketahuilah pencari akhirat harus melakukan kezuhudan dalam kehiduapan dunia agar cita-citanya hanya satu dan batinnya tidak terpisah dari lahirnya. Tidak mungkin menjaga keadaan itu kecuali dengan penguasaan lahir dan batin.”

Ibrahim bin al-Hakim berkata, “apabila hendak tidur, bapak ku sering menceburkan diri ke laut, lalu bertasbih. Ikan-ikan pun berkumpul dan ikut bertasbih bersamanya.

Wahab bin Munabbih berdoa kepada Allah agar dihilangkan rasa kantuk pada malam hari. Karena itu, dia tidak pernah tidur selama empat puluh tahun, Hasan al-Hallaj mengikat kakinya dari mata kaki hingga lutut dengan tiga belas ikatan. Dia menunaikan shalat dalam keadaan seperti itu sebanyak seribu rakaat dalam sehari semalam.

Al-Junayd pernah pergi ke pasar dan membuka tokonya. Dia masuk, menurunkan tirai, menunaikan shalat empat ratus rakaat, kemudian pulang selama empat puluh tahun. Hasbyi bin Dawud menunaikan shalat dhuha dengan wudhu untuk shalat `isya, maka hendaklah orang-orang Mukmin selalu dalam keadaan suci. Setiap kali berhadas, bersegeralah bersuci, shalat dua rakaat, dan berusaha menghadap kiblat dalam setiap duduknya. Hendaklah dia membayangkan bahwa dirinya sedang duduk dihadapan Nabi Saw menurut kadar kehadiran dan pengawasan batinnya. Dengan demikian dia, terbiasa tenang dalam segala perbuatan. Dia rela menanggung penderitaan, tidak melakukan sesuatu yang menyakiti (orang lain), dan memohon ampun dari setiap hal yang menyakitkan. Dia tidak membanggakan diri atas perbuatannya, karena bangga (`ujb) termasuk sifat-sifat setan. Pandanglah diri dengan mata kehinaan dan pandanglah orang-orang shaleh dengan mata kemuliaan dan keagungan. Barangsiapa yang tidak mengenal kemuliaan orang-orang shaleh, allah mengharamkannya bergaul dengan mereka. Dan barang siapa yang tidak mengenal mulanya ketaatan, dicabutlah manisnya ketaatan itu dari kalbunya.

Al-Fudhayl bin `Iyadh ditanya, “Wahai Abu `Ali, kapan seseorang bisa dijuliki orang shaleh?” Dia menjawab, “Apabila ada kesetiaan dalam niatnya, ada ketakutan dalam kalbunya, ada kebenaran pada lidahnya, dan ada amal shaleh pada anggota tubuhnya.”

Allah Swt berfirman ketika Nabi Saw melakukan mi`raj, “Wahai Ahmad, jika engkau ingin menjadi orang yang paling wara`, berlaku zuhudlah di dunia dan cintailah akhirat,” Nabi Saw bertanya, “Wahai Tuhan ku, bagaimana cara aku berlaku zuhud di dunia?” Allah menjawab, “Ambillah dari keduniaan itu sekedar memenuhi keperluan makan, minum, dan pakaian. Janganlah menyimpannya untuk hari esok dan biasakanlah berdzikir kepada-Ku.” Nabi Saw bertannya lagi, “Wahai Tuhan ku, bagaimana cara aku membiasakan berdzikir kepada Mu?” Allah menjawab, “Dengan mengasingkan diri dari manusia. Gantilah tidurmu dengan shalat dan (gantilah juga) makan mu dengan lapar.”

Nabi Saw bersabda, “Zuhud di dunia dapat menenangkan hati dan badan. Cinta kepadanya dapat memperbanyak emosi dan kesedihan. Cinta kepada keduniaan merupakan induk setiap kesalahan, dan zuhud dari dunia merupakan induk setiap kebaikan dan taat.

Seorang saleh melewati sekelompok orang. Tiba-tiba dia mendengar seorang dokter sedang menerangkan tentang penyakit dan obat-obatan. Dia bertanya, “Wahai penyembuh penyakit tubuh, dapatkah engkau mengobati penyakit hati?” Dokter itu menjawab, “Ya, sebutkan penyakitnya.” Orang saleh itu berkata, “Dosa telah menghitamkannya sehingga menjadi keras dan kering. Apakah engkau dapat mengobatinya?” Dokter menjawab, “Obatnya adalah ketundukan, permohonan yang sungguh-sungguh, istighfar di tengah malam dan siang hari, bersegeralah menuju ketaatan kepada Zat Yang Mahamulia dan Maha Pemberi ampunan, dan permohonan maaf kepada Raya Yang Mahakuasa. Inilah obat penyakit hati dan penyembuhnya dari Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

Lalu orang saleh itu menjerit dan berlalu sambil menangis. Dia berkata, “Dokter yang baik, engkau telah mengobati penyakit hati ku.” Dokter itu berkata, “Ini adalah penyembuh penyakit hati orang yang bertobat dan mengembalikan kalbunya kepada Dzat Yang Mahabenar dan Maha Menerima tobat.”

Dikisahkan bahwa seseorang membeli seorang budak. Lalu budak itu berkata, “Wahai tuan ku, aku ingin mengajukan tiga syarat kepada anda:
Pertama, Anda tidak menghalangiku untuk menunaikan shalat wajib apabila tiba waktunya;
Kedua, Anda boleh memerintah ku sesuka anda pada siang hari, namun tidak menyuruhku pada malam hari;
ketiga, Anda memberikan kepada ku sebuah kamar di rumah anda yang tidak boleh dimasuki orang lain.”
Pembeli budak itu berkata, “Aku akan memenuhi syarat-syarat itu.”

Selanjutnya dia berkata, “Lihatlah kamar-kamar itu.” Budak itu berkeliling dan menemukan sebuah kamar yang sudah rusak, lalu berkata, “Aku mengambil kamar ini.” Pembeli budak bertanya, “Wahai budak, mengapa engkau memilih kamar yang rusak?” Budak itu menjawab, “Wahai tuan ku, tidakkah anda tahu bahwa yang rusak di sisi Allah merupakan taman?”

Budak itu melayani tuannya pada siang hari, dan malamnya dia beribadah kepada Tuhannya. Hingga pada suatu malam, tuannya berkeliling di sekitar rumahnya, lalu sampai dikamar budak itu. Tiba-tiba dia melihat kamar itu bercahaya, sementara budak itu sedang bersujud dan di atas kepalanya ada cahaya yang tergantung diantara langit dan bumi. Budak itu bermunajat dan merendahkan diri (kepada Allah). Dia berdoa, “Ya Allah, aku memenuhi hak tuan ku dan melayaninya pada siang hari. Kalau tak begitu aku tidak akan melewatkan siang dan malam ku selain untuk berkhidmat kepada Mu, maka ampini aku, wahai Tuhan ku.”

Tuan nya menyaksikan hal itu hingga tiba waktu subuh. Pelita itu menghilang dan atap kamar itu pun menutup kembali. Lalu, dia kembali dan memberitahukan hal itu kepada istrinya. Ketika malam kedua tiba, dia mengajak istrinya dan mendatangi pintu kamar itu. Tiba-tiba mereka menemukan budak itu sedang bersujud dan ada pelita diatas kepalanya. Mereka pun berdiri di depan pintu kamar sambil memandangi budak itu dan menangis hingga tiba waktu subuh. Lalu, mereka memanggil budak itu dan berkata, “Engkau aku merdekakan karena Allah Swt sehingga engkau dapat mengisi siang dan malam mu dengan beribadah kepada Dzat yang engkau mohonkan maaf Nya.” Kemudian, budak itu menadahkan tangannya ke langit dan berkata:

Wahai pemilik segala rahasia
Kini rahasia itu telah tampak
Hidup ini tak lagi kuinginkan
Setelah rahasia itu tersebar


Lalu dia berdoa, “Ya Allah, aku memohon kematian kepada Mu.” Budak itupun tersungkur dan kemudian wafat. Demikianlah keadaan orang-orang saleh, serta para pencinta dan pendamba.

Dalam Zahr al-Riyad disebutkan bahwa Musa As punya seorang sahabat yang sangat dekat. Pada suatu hari, sahabatnya berkata, “Wahai Musa, berdoalah kepada Allah agar aku dapat mengenal Nya dengan makrifat yang sebenar-benarnya.”

Musa As berdoa, dan doanya dikabulkan. Kemudian, karibnya pergi ke puncak gunung bersama binatang-binatang buas. Musa pun kehilangan dia. Maka Musa berdoa, “Wahai Tuhan ku, aku kehilangan saudara dan sahabat ku.” Tiba-tiba ada jawaban, “Wahai Musa, orang yang mengenal Ku dengan makrifat yang sebenar-benarnya tidak bergaul dengan makhluk untuk selama-lamanya.”

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Yahya As dan Isa As sedang berjalan dipasar. Tiba-tiba seorang perempuan menabrak mereka. Yahya As berkata, “Demi Allah, aku tidak merasakannya.”

Lalu `Isa As bertanya, “Mahasuci Allah badanmu ada bersama ku, tetapi kalbumu ada dimana?” Yahya As menjawab, “Wahai anak bibi ku, kalau kalbu merasa tenteram kepada selain Allah sekejap mata pun, niscaya engkau mengira aku tidak mengenal Allah.”

Seorang ulama berkata, “Makrifat yang benar adalah menceraikan dunia dan akhirat, dan menyendiri untuk Maula (Allah Swt). Dia mabuk karena tegukan mahabbah. Karena itu, dia tidak sadar kecuali ketika melihat Allah. Dia berada di atas cahaya dan Tuhannya.” []


diambil dari terjemahan Buku Imam Al-Ghazali "Mukasyafah al-Qulub; al-Muqarrib ila hadhrah al-Ghuyub fi`Ilmi al-Tashawwuf," Dar al-Fikr

Mukasyafah al-Qulub "Bening Hati Dengan Ilmu Tasawuf" Imam Al-Ghazali
Penerbit, Marja Agustus 2003

Selasa, 02 November 2010

Perjalanan Haji

Jika memasuki bulan-bulan haji seperti sekarang ini, rasanya saya sangat rindu sekali dengan Mekkah dan Kabahnya....dimana kurang lebih 5 tahun saya tinggal di Jeddah, hampir setiap bulan saya mengumjungi bangunan suci Kabah untuk berumroh....
Saya ingat ketika pertama kali berhaji dengan keluarga ....waktu itu saya baru mempunyai dua anak ..... untuk saya pribadi ini haji yang ke-2 karena tahun sebelumnya sudah berhaji sendiri (tanpa keluarga).........

1. Di Gerbang Kota Mekkah
Inilah gerbang kota Mekkah dari arah Jeddah....kalu gak salah atau ga lupa merupakan batas Tanah Haram dan Tanah Halal....Gerbang ini berbentuk Al-Quran yang terbuka .....
Terlihat gerbang Kota Mekkah
2. Di Kota Mekkah
Kalau kita dapat tiba di Kota Mekkah pada tanggal 8 Dzulhijjah, maka kita laksanakan Thawwaf Qudum (Thawaf Selamat Datang) dilanjutkan dengan Sa'i haji (bagi haji Tamatu atau Ifrad).
Masjidil Haram tampak dari mobil kami.....
Selanjutnya kita disunahkan bermalam di Mina .......

3. Wukuf di Arafah
Selanjutnya besoknya tanggal 9 Dzulhijjah pagi sebelum dzuhur kita sudah harus sampai di Padang Arafah tempat berwukuf.....
Di Perkemahan Haji Indonesia Arafah

Dekat Jabal Rahmah
Setelah kita mendengarkan khutbah wukuf pada waktu sebelum shalat dzuhur maka selanjutnya kita shalat dzuhur dijama qashar dengan Ashar selanjutnya banyak berdoa.... sampai waktu maghrib tiba..... sunahnya shalat maghrib dijama takhir dengan shalat Isya di Muzdalifah...

4. Bermalam (Mabit) di Muzdalifah
Sunahnya kita bernalam di Muzdalifah sampai pagi tapi ada juga beberapa jamaah pergi meninggalkan Muzdalifah setelah lewat tengah malam......

5. Melontar Jumrah Aqabah
Pagi setelah shalat shubuh dan matahari terbit maka kita menuju Jumratul Aqabah untuk melontar dengan tujuh buah kerikil sebagai tanda tahalul awal....
Tiang Jumrah thn 2002, sekarang berbentuk tembok
6. Thawaf Haji di Masjidil Haram Makkah
Apabila kita telah sa'i pada waktu thawaf Qudum, maka kita tinggal melaksanakan Thawaf haji sebagai tanda Tahalul Tsani....

7. Mabit di Mina
Sebelum maghrib kita harus tiba kembali di Mina dan melaksanakan Mabit/bermalam.....Kita diwajibkan bermalam pada malam-malam tasyriq yakni malam ke-11 dan 12 bagi nafar awal (yang terburu-buru) serta malam ke 13 bagi nafar tsani. Setiap harinya kita wajib melempar ketiga jumrah (ula, wustha, aqabah) setelah tergelincirnya matahari.....
Mabit di Mina bersama teman dan keluarga....
Perkemahan di Mina

Terowongan Al Muashem menuju ke perkemahan haji Indonesia
8. Pulang kembali ke Jeddah
Setelah selesai melontar jumrah pada hari tasyriq ... kami pun pulang.....
Inilah rombongan Jemaah haji tahun 2002 dari SIJ....
Rombongan Haji SIJ 2002

Sabtu, 23 Oktober 2010

ZINA

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya:

Tidak diragukan bahwa perbuatan zina adalah perbuatan dosa besar. Dan diantara penyebab terjerumusnya seseorang kedalam kenistaan ini ialah rendahnya iman dan moral masyarakat, serta praktek obral aurat dengan murah, terutama dari kaum wanita.

Diantara faktor yang menyuburkan perilaku hina ini ialah merajalelanya pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan. Banyak dari kita yang berhati dingin tanpa takut dosa, mengumbar seluruh indranya untuk menikmati sesuatu yang tidak halal baginya. Perilaku ini sering kali menjadi langkah pertama begi terjerumusnya seseorang kedalam perbuatan nista ini. Oleh karena itu, jauh-jauh hari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam telah memperingatkan kita dari berbagai perangkap perzinaan ini

(قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ {30} وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman “hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakan kepada wanita yang beriman: “hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami atau ayah, atau ayah suami atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara laki-laki atau putra-putra saudara laki-laki atau putra-putra saudari perempuan mereka, atau wanita-wanita muslimah atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (kepada wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nur: 30-31)

Dan Rasulullah rjuga bersabda:
(كُتِبَ على بن آدَمَ نَصِيبُهُ من الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذلك لا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذلك الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ)  متفق عليه
“Telah ditentukan atas setiap anak Adam bagiannya dari perbuatan zina, ia pasti melakukannya. Zina kedua mata adalah dengan memandang, zina kedua telinga adalah dengan mendengarkan, zina lisan adalah dengan berbicara, zina kedua tangan adalah dengan menggenggam, dan zina kedua kaki adalah dengan melangkah, sedangkan hati berkeinginan dan berandai-andai, dan kemaluan mempraktekkan keinginan untuk berzina itu atau menolaknya.” Muttafaqun ‘alaih

Para ulama’ menyatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memulai dengan menyebutkan zina mata, karena zina mata adalah asal usul terjadinya zina tangan, lisan kaki, dan kemaluan[1] .
Oleh karena itu hendaknya kita senantiasa waspada dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi perangkap-perangkap perzinaan diatas, agar tidak terjerumus kedalam kenistaan ini, Allah ta’ala:
)وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً(
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Al Isra’ 32
Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya zina adalah piutang yang pasti anda tebus, dan tebusannya ada pada keluarga anda sendiri, dalam pepatah dinyatakan
عفوا تعف نساؤكم وأبناؤكم وبروا أباءكم يبركم أبناؤكم
Jagalah dirimu niscaya istri dan anakmu mu akan menjaga dirinya dan berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anakmu akan berbakti kepadamu.“[2]

Dan dalam pepatah arab lainnya dinyatakan:
الزنا دين قضاؤه في أهلك
“Perbuatan zina adalah suatu piutang, dan tebusannya ada pada keluargamu.”

Masing-masing dari kita seyogyanya bertanya kepada hati nurani masing-masing: Relakah kita bila anak gadis, atau saudara wanita atau ibu kita dizinai oleh orang lain? Bila tidak rela, maka janganlah berzina dengan anak atau seudara wanita atau ibu orang lain.
Dan bila anda telah tega menzinai anak atau saudara wanita atau ibu seseorang, maka semenjak itu ingatlah selalu bahwa pada suatu saat perbuatan yang serupa akan menimpa anak gadis anda atau saudara wanita anda atau bahkan ibu anda.
Oleh karena itu hendaknya anda senantiasa berpikir panjang bila tergoda setan untuk melakukan berzina, baik zina kemaluan atau zina pandangan atau lainnya. Sebagaimana pedihnya hukuman Allah di dunia dan akhirat senantiasa anda ingat, agar anda tidak mudah terjerembab ke dalam kenistaan ini.

Diantara bentuk hukuman yang diberikan oleh Islam kepada para pezina selain dicambuk ialah diharamkannya menikah dengan mereka hingga mereka bertaubat. Allah Ta’ala berfirman:
}الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ { النور 26
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula) dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik( pula).” (An Nur: 26)
Sebagian ulama’ ahli tafsir menyatakan bahwa ayat ini ada kaitannya dengan ayat ke-3 dari surat yang sama, yaitu firman Allah Ta’ala:
} الزَّانِي لا يَنكِحُ إلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنكِحُهَا إِلاَّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ {
“Lelaki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh lelaki yang berzina atau lelaki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (An Nur: 3).

Sehingga penafsiran ayat ini menunjukkan bahwa lelaki yang tidak baik adalah pasangannya wanita yang tidak baik pula, dan sebaliknya wanita yang tidak baik adalah pasangannya orang yang tidak baik pula. Dan haram hukumnya bagi lelaki baik atau wanita baik untuk menikahi wanita atau lelaki yang tidak baik.[3]

Sebagian ulama’ menjabarkan penafsiran ini dengan lebih jelas lagi: Barang siapa yang menikahi wanita pezina yang belum bertaubat, maka ia telah meridhai perbuatan zina. Dan orang yang meridhai perbuatan zina, maka seakan ia telah berzina. Bila seorang lelaki rela andai istrinya berzina dengan lelaki lain, maka akan lebih ringan baginya untuk berbuat zina. Bila ia tidak cemburu ketika mengetahui istrinya berzina, maka akankah ada rasa sungkan di hatinya untuk berbuat serupa?! Dan wanita yang rela bila suaminya adalah pezina yang belum bertaubat, maka berarti ia juga rela dengan perbuatan tersebut. Barang siapa rela dengan perbuatan zina, maka ia seakan-akan telah berzina. Bila seorang wanita rela andai suaminya merasa tidak puas dengan dirinya, maka ini pertanda bahwa iapun tidak puas dengan suaminya.

Oleh karena itu, orang yang terlanjur terjerumus kedalam kenistaan ini, hendaknya segera kembali kepada jalan yang benar. Hendaknya ia menyadari bahwa perbuatan zina telah meruntuhkan kehormatan dan jati dirinya. Sebagaimana hendaknya ia juga senantiasa waspada dari balasan Allah Ta’ala yang mungkin akan segera menimpa keluarganya.
Bila penyesalan dan rasa pilu telah menyelimuti sanubari, dan tekad untuk tidak mengulangi kenistaan ini telah menjadi bulat, istighfar kepada Allah senantiasa dipanjatkan. Bila berbagai jalan-jalan yang akan menjerumuskan kembali kedalam kenistaan ini, telah ditinggalkan, maka semoga berbagai dosa dan hukuman Allah atas perbuatan ini dapat terhapuskan.

Mungkin ada yang bertanya: bagaimana halnya dengan hukuman dera atau cambuk yang belum ditegakkan atas pezina tersebut, apakah taubatnya dapat diterima?
Ketahuilah saudaraklu, bahwa: Sahabat Ma’iz bin Malik t mengaku kepada, Rasulullah r bahwa ia telah berzina. Berdasarkan pengakuan ini, Rasulullah r memerintahkan agar ia dirajam. Tatkala perajaman telah dimulai, dan sahabat Ma’iz merasakan pedihnya dirajam, iapun berusaha melarikan diri. Akan tetapi para sahabat yang merajamnya berusaha untuk mengejarnya dan merajamnya hingga meninggal. Ketika Rasulullah r dikabarai bahwa sahabat Ma’iz berusaha melarikan diri, beliau bersabda:
(هلا تركتموه لعله أن يتوب فيتوب الله عليه ) . أخرجه أحمد وأبو داود وابن أ بي شيبة
“Tidahkah kalian tinggalkan dia, mungkin saja ia benar-benar bertaubat, sehingga Allah akan mengampuninya.” Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Abi Syaibah.
Berdasarkan hadits ini dan juga lainnya para ulama’ menyatakan bahwa orang yang berzina taubatnya dapat diterima Allah, walaupun tidak ditegakkan padanya hukum dera atau rajam. Dinatara yang menguatkan pendapat ini ialah firman Allah Ta’ala:
]وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا {68} يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا {69} إِلاَّ مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا [
"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain berserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah  (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu niscaya dia mendapat pembalasan atas dosanya. Yakni akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari qiyamat dan ia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatannya diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Al Furqaan 68-70
Ibnu Katsir berkata: "Tafsiran kedua: bahwa kejelekan yang telah lalu dengan benar-benar bertaubat akan berubah menjadi kebaikan. Yang demikian itu karena setiap kali pelaku dosa teringat akan lembaran kelamnya, ia menyesali, hatinya pilu, dan  bertaubat/ memperbaharui penyesalannya. Dengan penafsiran demikian ini, dosa-dosa itu berubah menjadi ketaatan kelak pada hari qiyamat. Walaupun dosa-dosa itu tetap saja tertuliskan atasnya, akan tetapi itu semua tidak membahayakannya. Bahkan itu akan berubah menjadi kebaikan pada lembaran catatan amalnya, sebagaimana dinyatakan dalam hadits-hadits yang shohih, dan keterangan ulama' salaf."[4]

Berdasarkan keterangan ini, maka banyak dari ulama’ yang berkredibilitas tinggi membolehkan kita untuk menikah dengan pezina yang benar-benar telah bertaubat.
Syeikh As Syinqithy berkata: “Ketahuilah bahwa menurutku pendapat ulama’ yang paling kuat adalah: bila lelaki pezina dan wanita pezina telah berhenti dari perbuatan zina, menyesali perbuatan mereka, dan bertekad untuk tidak mengulanginya, maka pernikahan mereka adalah sah. Sehingga seorang lelaki dibenarkan untuk menikahi wanita yang pernah ia zinahi setelah keduanya bertaubat. Sebagaimana dibolehkan bagi orang lain untuk menikahi mereka, tentunya setelah mereka bertaubat. Yang demikian itu karena orang yang telah bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tidak pernah melakukan dosa.”[5]

Bila pezina adalah seorang wanita, dan ia hamil dari hasil perzinaan itu, maka untuk dapat menikahinya disyaratkan hal lain, yaitu ia telah melahirkan anak yang ia kandung, sebagaimana ditegaskan pada fatwa Komite Tetap Untuk Fatwa Kerajaan Saudi Arabia berikut : “Tidak dibenarkan menikahi wanita pezina dan tidak sah akad nikah dengannya, hingga ia benar-benar  telah bertaubat dan telah selesai masa iddahnya.”[6]

Saudaraku, ketahuilah bahwa diantara perwujudan dari taubat kita dari perbuatan dosa ialah dengan tidak menceritakan perbuatan dosa kita kepada orang lain. Karena menceritakan lembaran kelam kepada orang lain merupakan pertanda akan lemahnya rasa malu, penyesalan dan rasa takut kepada Allah. Bahkan bisa saja perbuatan ini menjadi pertanda adanya kebanggaan dengan perbuatan nista tersebut. Simaklah sabda Rasulullah r berikut:
(كل أمتي معافى إلا المجاهرين وإن من المجاهرة أن يعمل الرجل عملا بالليل ثم يصبح وقد ستره الله . فيقول : يا فلان عملت البارحة كذا وكذا وقد بات يستره ربه ويصبح يكشف ستر الله عنه ) . متفق عليه
“Setiap ummatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang berterus-terang dalam bermaksiat. Dan diantara perbuatan berterus-terang dalam bermaksiat ialah bila seseorang melakukan kemaksiatan pada malam hari, lalu Allah telah menutupi perbuatannya, akan tetapi ia malah berkata: wahai fulan, sungguh tadi malam aku telah berbuat demikian dan demikian. Padahal Tuhan-Nya telah menutupi perbuatannya, dan ia malah menyingkap tabir Allah dari dirinya.” Muttafaqun ‘Alaih. Dan pada hadits lain beliau bersabda:
(اجتنبوا هذه القاذورة التي نهى الله عز وجل عنها ، فمن ألم فليستتر بستر الله عز وجل ، فإنه من يبد لنا صفحته نقم عليه كتاب الله)
“Jauhilah olehmu perbuatan-perbuatan nista yang telah Alla Azza wa Jalla larang, dan barang siapa yang melakukannya, maka hendaknya ia menutupi dirinya dengan tabir Allah Azza wa Jalla, karena barang siapa yang menampakkan kepada kami jati dirinya, maka kamipun akan menegakkan hukum Allah.” Riwayat Al Baihaqi dan dihasankan oleh Al Albani.
Berdasarkan dalil ini dan juga lainnya, para ulama’ menyatakan bahwa dianjurkan bagi orang yang telah terjerumus ke dalam dosa, agar merahasiakan dosanya tersebut, dan tidak menceritakannya. Oleh karena itu tidak sepantasnya anda menceritakan masa lampau anda kepada siapapun termasuk kepada lelaki yang melamar anda. Terlebih-lebih bila anda benar-benar telah bertaubat, dan menyesali dosa anda. Karena yang wajib untuk diceritakan kepada pelamar anda adalah cacat atau hal-hal yang akan menghalangi atau mengurangi kesempurnaan hubungan suami istri.[7]Adapun perbuatan dosa, terlebih-lebih yang telah ditinggalkan dan disesali, maka tidak boleh diceritakan, karena siapakah dari kita yang tidak pernah berbuat dosa?

Pada kesempatan ini saya merasa perlu untuk mengingatkan saudara-saudaraku sekalian agar senantiasa menjadikan pasangan hidupnya sebagai cermin akan jati dirinya. Bila anda menjadi marah atau benci karena mengetahui ada kekurangan pada pasangan anda, maka ketahuilah bahwa andapun memiliki kekurangan yang serupa atau lainnya yang mungkin lebih besar dari kekurangannya. Dan bila anda merasa bahwa diri anda memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh pasangan anda, maka ketahuilah bahwa iapun memiliki kelebihan yang tidak ada pada diri anda. Oleh karena itu jauh-jauh hari Nabi r berpesan kepada kita dengan sabdanya:
(لا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مؤمنة إن كَرِهَ منها خُلُقًا رضى منها آخَرَ)
“Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukmin, bila ia membenci suatu perangai darinya, niscaya ia suka dengan perangai yang lain.” Muslim.

Demikianlah seyogyanya seorang muslim bersikap dan berfikir, tidak sepantasnya kita bersifat egois, hanya suka menuntut, akan tetapi tidak menyadari akan kekurangan diri sendiri. Bila kita menuntut agar pada diri calon pasangan kita terdapat berbagai kriteria yang indah, maka ketahuilah bahwa calon pasangan kitapun memiliki berbagai impian tentang pasangan hidup yang ia dambakan. Karenanya, sebelum kita menuntut, terlebih dahulu wujudkanlah tuntutan kita pada diri kita sendiri, dengan demikian kita akan dapat berbuat adil dan tidak semena-mena dalam bersikap dan menentukan kriteria ideal calon pasangan hidup.
Semoga pemaparan singkat ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dan semoga Allah Ta’ala mensucikan jiwa kita dari noda-noda kenistaan.  wallahu ta’ala a’alam bisshowab.

(oleh ust. Arifin badri,Lc,MA)